Tak hanya apik dan menarik, tapi buku ini juga sarat hikmah. Kisah nyata yang disajikan dari dua kacamata, kacamata seorang suami dan kacamata istri memberi warna-warni tersendiri. Bagaimana seorang suami menilai sebuah konflik dan seorang istri menilai konflik yang sama dengan cara berbeda. Ketegangan-ketegangan yang muncul sungguh bagaikan novel, seru. Insya Allah, membaca buku ini akan banyak memberimu pelajaran, juga keasyikan.

Kisah nyata ini dituturkan secara jujur, tiada yang disembunyikan. Maka di sana ada kegelisahan, kemarahan, kegamanan, haru-biru…, bahagia, juga CINTA.

Dalam buku ini penenulis menceritakan tentang peliknya permasalahan ketika hendak mengarungi hidup baru, PERNIKAHAN, hingga tahun pertama membina hidup berrumah tangga. Banyak pelajaran yang dapat diambil. Hal-hal yang sepertinya sederhana ternyata mengandung hikmah yang tak ternilai harganya.

Buku ini sangat cocok dibaca, terutama bagi engkau yang segera menuju pernikahan, bagi pasangan-pasangan bulan madu, ataupun keluarga-keluarga muda yang hendak membina rumah tangga dengan penuh cinta. Di luar itu, siapapun boleh baca dan silahkan mengambil hikmahnya.

Silahkan pesan SEGERA! Untuk 25 pemesan/pembeli pertama akan diundi dan berkesempatan meraih buku GRATIS dari Rahman Hanifan.

Cara membeli buku:

  1. Silahkan pesan dan tinggalkan alamat ke rahmanhanifan@gmail.com
  2. Kami akan memberikan total harga (harga buku 43.000 plus ongkos kirim via JNE dari Jakarta)
  3. Silahkan tranfer ke rek BCA: 1281597251 atas nama: Aulia Halimatussadiah
  4. Silahkan konfirmasi pembayaran dan lampirkan bukti tranfer (slip transfer, bukan struk ATM) ke rahmanhanifan@gmail.com (Ini wajib dilakukan karena kalau tidak, pesanan tidak akan diproses)
  5. Silahkan tunggu kiriman bukunya.

atau boleh juga pesan langsung di sini

http://nulisbuku.com/books/view/magelang-pemalang-via-sydney

 

Dari Ibnu Mas’ud ra., dari Nabi Saw., beliau bersabda: “Sesungguhnya kebenaran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Seseorang akan selalu bertindak jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu membawa kepada kejahatan dan kejahatan itu membawa ke neraka. Seseorang akan selalu berdusta sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sesekali sediakanlah waktu untuk meneliti kata-kata yang keluar dari lisan kita, atau reaksi-reaksi kita menyikapi segala permasalahan hidup yang berkunjung. Bersyukurlah bila engkau selalu mengucapkan kata-kata atau bertindak positif. Itu adalah sebuah langkah maju, sehingga kau layak menjadi orang yang berhasil dan bermanfaat.

Ha-hal kecil seringkali tidak kita perhatikan, tapi sesungguhnya menyimpan kekuatan yang dahsyat. Misalnya kata “dahsyat” itu sendiri. Bila kita sering menggunakannya dalam percakapan sehari-hari, insya Allah, hal-hal dahsyat akan mendatangi kita. TDW (Tung Desem Waringin) menceritakan pengalamannya dalam 24 Prinsip Milyander yang Mencerahkan. Waktu itu TDW bekerja di sebuah bank yang sedang mengalami penarikan besar-besaran dari nasabah atau yang kita kenal dengan rush. Kepala devisi di kantor pusat menelpon dan bertanya:  “Tung  apa  kabar  Bank  disini?” Apa jawaban TDW?  “Dahsyat  Pak!”

Coba engkau perhatikan dialog selanjutnya.

Kepala  divisi    :  “Apa Tung?”

TDW               : ” Dahsyat Pak!”

Kepala divisi     : “Apa…? “

TDW               : “Dahsyat Pak”

Kepala divisi     : “Apa..?? “

TDW               : “Dahsyat  Pak”

Kepala divisi     : “Tung dalam kondisi gini kok kamu ngomong dahsyat? Yang  dahsyat  itu apanya?

TDW               : “Lho pak, saya kan hanya menggunakan kata-kata untuk membuat saya semangat dan anak buah saya menjadi  lebih semangat. Saya  tahu kondisinya tidak baik. Tapi saya janji akan buat menjadi dahsyat”.

Kepala divisi     : “Tung, kamu tidak bisa ngomong seperti itu.”

TDW               : “Lah tapi itu pak adalah janji saya untuk menjadi lebih dahsyat, karena saya terpacu untuk mebuktikan kata – kata saya menjadi lebih Dahsyat. Itu harus terbukti “

Apa yang terjadi selanjutnya? Bank yang digawangi TDW menjadi yang pertama pulih. Pak TDW pun berani menelpon Kepala Devisinya dan berkata: “Pak, sudah pulih 100%, padahal seluruh Indonesia masih turun.”

Masih berdasar pengalamannya, TDW mengatakan bahwa kata-kata ‘dahsyat” membuatnya lebih semangat, dan secara struktur molekul membuat kita bergetar dan menjadi lebih baik.

Sungguh cerita semacam ini bukan bualan kosong. Kata-kata atau perilaku-perilaku sederhana kita sesungguhnya sangat berpengaruh pada keberhasilan atau kegagalan diri.

Yusabbihu maa fis-samaawaati wa maa fil-ardr, kata Allah. Bertasbih semua yang di langit dan di bumi. Dalam hal ini tidak dikatakan bahwa yang bertasbih itu tidak hanya apa yang kita sebut sebagai makhluk hidup, tapi semua-muanya, termasuk kursi yang kita duduki, keypad HP yang kita pencet-pencet setiap saat, nasi yang kita makan, udara yang kita hirup, bahkan keringat menderas dari pori-pori kita ketiga berolah raga. Semua-muanya bertasbih memuji Allah. Subhanallah.

Dengan demikian kita bisa menerima logika Matsaru Emoto yang mengatakan bahwa semua benda memiliki hado, semacam jiwa yang dapat merespon lingkungan sekitarnya. Ketika air selalu diberi kata-kata positif misalnya, ia pun akan merespon positif. Maka jangan heran bila ada orang yang dapat menyembuhkan penyakit hanya dengan memberikan segelas air putih yang telah dibacakan ayat-ayat al-Qur’an. It’s not imposible thing.

Percaya atau tidak, bahkan ketika saya menuliskan kalimat-kalimat ini, saya menjadi semangat dan merasakan energi untuk berprestasi yang meluap-luap. Dahsyat!

Sesiangan tadi saya cukup banyak pekerjaan, dan saat ini jam setengah sebelas malam. Begitu pun saya tetap semangat untuk menulis dan setelah ini masih berrencana untuk membaca buku. Nikmat sekali. Secara otomatis saya telah termotivasi dan kondisi fisik yang sesungguhnya (maaf harus saya katakan) lelah, bisa teratasi.

Barangkali sebab inilah berlaku bagi manusia amal dan dosa jariyah, seperti ketika orang menetapkan sunnah-hasanah atau sebaliknya, sunnah-syayyi’ah. Setiap kebaikan atau keburukan yang kita perbuat, meski setitik akan memberikan efek senada. Maka, seberat dzarrah pun ada hitungan-hitungan tersendiri di hadapan Allah, takkan sedikit pun terlewat.

Karena itu, mari kita budayakan untuk mengumpulkan dzarrah-dzarrah kebaikan. Mulai dari cara kita bicara, cara berjalan, cara berdandan, cara memandang orang, cara bersalaman, cara duduk dan banyak lagi. Boleh kau simak kembali bagaimana tauladan kita, Rasulullah bersikap. Silahkan baca kembali hadits riwayat Termidzi di awal perbincangan kita dalam buku ini tentang keadaan Rasulullah saat berkata, diam dan seterusnya. Semua-muanya mempesona.

Sebagai insan yang mencintai beliau Rasulullah Saw., juga sebagai hamba Allah yang mengingini Ridha-Nya, kita harus membiasakan kebaikan menyelimuti lingkungan dan diri sendiri. Dan tidak sekedar kebaikan, tapi kebaikan yang terbaik. Ketika bersalaman, ada cara yang terbaik. Kita memandang ke wajah dan memberikan senyum pada orang lawan bersalaman. Kita genggam tangannya dengan erat – tentu jangan sampai menyakiti – dan tidak melepaskan sampai terasa lawan bersalaman kita mau melepaskan genggamannya.

Ketika tersenyum, kita juga sudah sering mendengar bagaimana senyuman terbaik berdasar berbagai penelitian. Kita tarik bibir dua centi ke kanan dan ke kiri, menahannya selaman kurang lebih tujuh detik. Kita berikan senyuman kita dengan tulus, hingga timbul sedikit kerutan dekat sudut-sudut luar mata kita sebagai salah satu tandanya.

Ketika tidur, Rasulullah juga telah mencontohkan bagaimana posisi tidur terbaik, engkau pasti sudah tahu seperti apa. Banyak hal lain, orang-orang abai dan menyepelekan. Padahal, bila hal-hal bagus itu – sesepele apapun kita memandangnya – kita biasakan, akan ada efek positif yang luar biasa. Mula-mula kita membiasakan sesuatu, akhirnya kebiasaan itu membentuk pribadi kita. Mula-mula kita membiasakan kebaikan, akhirnya kebaikan itu menjadi karakter kita.

Bila tak sengaja melihat seorang laki-laki, maaf, buang air, berdiri di pinggir jalan raya, lalu menguap dan meludah seenaknya, sementara pada kaki dan tangannya bergambar macam-macam tato, muka gelap dan matanya tajam, maka kita bisa menerka, kira-kira orang macam apa dirinya.

Sebaliknya, bila kita bertemu seseorang di depan masjid, dia memakai pakaian rapi dan berkopyah, ketika mendekat dia tersunyum dan menyalami, begitu ramah, wajah bersih dan seperti bercahaya, lalu dia pun berlalu masih dengan senyum di bibirnya yang mengembang, kita juga bisa mengira-ira, orang macam apa dirinya.

Kecuali dua orang yang kita temui tadi sedang berpura-pura, atau ternyata seorang intel yang sedang menjalankan tugas rahasia, maka tebakan kita tetang dua orang tadi insya Allah mendekati kebenaran. Nah, orang lain juga dapat menilai diri kita, dari sikap keseharian. Tidakkah kita ingin orang memandang memposisikan kita sebagai orang  yang baik dan shalih? Ah, lebih baik lagi jika kita benar-benar orang baik dan shalih.

Tentu kita bisa menjadi orang baik dan shalih, bila kita membiasakan diri. Sekali lagi, mulai dari hal-hal yang kadang kita anggap sepele. Bila kita berbuat kebaikan, insya Allah, energi positifnya akan menyebar ke tubuh, otak dan hati kita, sehingga selalu terdorong untuk berbuat baik. Selanjutnya, orang-orang di sekitar kita pun bersikap positif. Dan betapa banyak kebaikan yang akan tercipta bila orang-orang di sekitar kita itu juga menyebarkan energi positif masing-masing. Subhanallah, dunia akan penuh gairah positif. Baik kawan, BE POSITIVE!

Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra., ia berkata: “Saya menghafal beberapa kalimat dari Rasulullah Saw., yaitu: “Tinggalkanlah apa yang kamu ragukan dan kerjakanlah apa yang tidak kamu ragukan. Sesungguhnya jujur itu menimbulkan ketenangan dan dusta itu menimbulkan kebimbangan.”” (HR. Tirmidzi)

Telah banyak sekali bukti, siapa yakin sukses, dia benar-benar sukses. Sebaliknya, siapa berpikir gagal, dia benar-benar mengalami kegagalan. Maka ungkapan You can if You think You can terlalu berharga untuk kita tolak kebenarannya, meski sebagai insan beriman, kita tidak boleh melupakan takdir Tuhan. Insya Allah, we can if we think we can.

Sebelum lebih jauh kita perbincangkan hal ini, saya ingin mengingatkan bahwa keyakinan atau dalam bahasa agama sering disebut iman, adalah kepercayaan yang membuahkan tindakan, action. Jadi ketika seseorang berpikir menjadi sukses, dia benar-benar bertindak untuk menggapai kesuksesan. Dia akan mencari informasi sebanyak-banyaknya, membuat rencana, lalu melangkah maju menuju apa yang diyakini. Bila tidak, maka dia hanyalah seorang pengkhayal.

Orang yang benar-benar beriman terhadap hari akhir pastilah akan menjalani hidupnya dengan amal shalih sebanyak mungkin, berharap mendapatkan surga seluas langit dan bumi. Bohong besar bila ada yang mengaku-ngaku beriman terhadap hari akhir, sementara dia gemar berbuat dosa dan hobi bermaksiat, juga mengabaikan perintah dan aturan-aturan Tuhan. Bohong karena dia telah menyalahi konsekuensi dari kepercayaannya.

Begitu pula bila ada orang yang mengaku yakin akan sukses menjadi pengusaha mobil terbesar di dunia, sementara dia tidak belajar tentang ilmu permobilan, tidak beranjak untuk memulai usaha, bahkan menghabiskan waktu untuk berbagai aktivitas di luar keinginan besarnya itu, maka sudah pasti dia seorang pembual, pemimpi dan pecundang. Sayangnya, ternyata lebih banyak orang berada dalam golongan ini.

Ada sebuah ilustrasi menarik. Begini. Suatu saat ada tiga ekor kucing yang sedang tidur-tiduran di teras rumah. Pertanyaannya; ”Bila kemudian dua ekor kucing memutuskan untuk pergi menangkap jangkrik, berapa kucing yang tinggal di teras?” Tentu engkau akan menjawab; ”satu.” Sayangnya jawaban itu salah. Jawaban yang benar adalah; “Tiga.” Kok bisa? Iya, karena kedua ekor kucing tadi baru memutuskan untuk mencari jangkrik, tapi belum bertindak.

Begitulah, banyak orang telah mengambil keputusan, tapi tidak mengambil tindakan. Banyak orang ingin dan memutuskan menjadi kaya, tapi tidak berusaha meraihnya. Mereka tidak take action. Karena itu sampai kapan pun mereka akan tetap miskin, karena kaya bagi mereka baru pada tahap keinginan dan keputusan.

Maka, bila engkau telah menetapkan tujuan, telah membangun mimpi dan merancang visi misi, bersegeralah untuk bertindak tanpa ragu-ragu. Mulailah dari apa yang bisa diperbuat saat ini. Bila ilmu masih kurang, maka carilah ilmu sebanyak kau bisa. Bila sarana atau modal belum ada, maka berpikir cerdas dan berusaha keraslah untuk memperoleh atau menemukan solusi. Bila ada haling melintang, maka berusahalah untuk menyingkirkan atau melampauinya. Begitu baru OK.

Satu hal lagi, bila sudah berazam, maka kita harus seratus prosen yakin. Jangan biarkan keraguan mengganggu pikiran kita. Elsa Sakina dalam Berpikir Benar Berpikir Positif mengatakan bahwa sikap ragu-ragu pada akhirnya dapat membunuh ambisi, melemahkan kemauan dan merugikan diri sendiri. Ragu-ragu akan membuat kita takut gagal. Bila itu terjadi, kita akan terus berpikir tentang kegagalan. Sebagai akibat lanjutan, kita benar-benar sudah menyiapkan diri untuk menjadi orang gagal, lalu benar-benar gagal. Maka mari berhenti berpikir tentang kegagalan.

Kini saatnya memupuk keyakinan, bahwa kita terlahir untuk menjadi orang-orang sukses. Ketika terlahir ke dunia, maka kita telah berhasil mengalahkan jutaan sel kehidupan lain yang mati dengan segera. Ketika menjadi dewasa, kita telah menjadi the chosen untuk terus meniti jalan sukses, padahal ada sekian banyak bayi atau anak-anak yang meninggal dunia, bahkan sebelum mereka benar-benar bisa berjalan atau bicara. Kini kita hidup dengan potensi diri yang luar biasa (fisik, akal dan kekuatan jiwa kita luar biasa), di lingkupi peluang yang bertabur di mana-mana. Begitu banyak alasan untuk sukses.

Penting sekali membangun mindset sukses ini, karena setiap prestasi besar pernah diraih manusia, semua berawal dari cara berpikir. Thomas Alfa Edison takkan pernah menemukan lampu, bila dia tak yakin akan berhasil dalam penelitian-penelitiannya. Maka ungkapannya pun sangat terkenal. Tentang ribuan kali penelitiannya yang belum menghasilkan sesuatu, dia pun berkata; ”Aku telah berhasil menemukan 1.000 cara membuat lampu yang tidak akan berhasil.”

Silvester Stallone takkan menjadi seperti apa yang kau kenal saat ini bila dia rela menjual naskahnya ”Rocky” seharga US$ 1 juta untuk diperankan orang lain. Stallone berani menjual naskahnya jauh lebih rendah, hanya seharga US$ 35 ribu dengan syarat dia sendiri menjadi pemeran utama. Itu karena dia punya mimpi menjadi bintang besar. Maka film pertamanya pun Box Office, dan dia segera menjadi aktor papan atas Hollywood.

Konstantinopel barangkali akan jatuh di tangan pejuang lain, bila Muhammad al-Fatih tidak sejak kecil sering diajak gurunya jalan-jalan, lalu ditunjukkan sebuah kota yang telah dijanjikan Rasulullah akan ditaklukkan oleh seorang umatnya beserta pasukan kaum muslimin, lalu Al-Fatih pun menjadikannya sebagai cita-cita.

Boleh juga kau tengok kembali kisah Abdullah bin Umar dan ketiga kawannya yang punya cita-cita pada bab ’Bermimpilah!’, keyakinan telah membuat semua mimpi besar mereka menjadi nyata. Luar biasa.

Atau contoh yang lebih dekat dengan kita, Joni Ariadinata barangkali takkan menjadi penulis kondang yang dihormati kalau beliau menyerah ketika mendapati naskahnya yang ke seratus ternyata belum dimuat juga. Beliau terus menulis dan mengirimnya ke media, hingga tak terhitung telah berapa banyak dia kirimkan, entah dua ratus, tiga ratus, empat ratus, bahkan mungkin lima ratus. Dan semua ditolak. Tapi karena beliau punya keyakinan, menulis pun kini jadi jalan hidup yang lebih benderang baginya.

Ingatlah bahwa pikiran kita bagaikan magnet. Thoghts become things. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita yakini, serinkali menjadi kenyataan. Ada sebuah ilustrasi menarik dan lucu.

Seorang pria miskin berjalan ke dalam hutan sambil meratapi nasibnya yang penuh dengan kesusahan. Ia beristirahat di bawah pohon, yaitu pohon ajaib yang bisa mengabulkan semua permohonan dari semua orang yang berada dekat dengan pohon itu. Pria itu sangat haus dan ingin minum. Tiba-tiba secangkir air dingin segar muncul di tangannya. Terkejut, pria itu melihat seksama air tersebut. Setelah merasa air itu aman, ia meminumnya. Pria itu kemudian merasa lapar dan ingin sesuatu untuk makan. Sepiring makanan muncul dihadapannya. “Keinginanku terkabul,” ia berpikir setengah tidak percaya. “Kalau begitu aku ingin memiliki rumah yang bagus milikku sendiri, “ ia berteriak dengan keras. Rumah itu secara ajaib muncul di sebelahnya. Senyum lebar muncul di muka pria itu. Ia lalu meminta pelayan untuk merawat rumahnya. Ketika pelayan itu muncul, pria itu sadar bahwa ia telah dikaruniai dengan keajaiban. Pria itu lalu meminta seorang wanita cantik, pintar, dan mencintai dirinya untuk mendampinginya. Keinginannya terkabul.

“Tunggu, ini aneh,” kata pria itu pada si wanita, ”Aku tidak seberuntung ini. Hal ini tidak mungkin terjadi padaku.” Saat ia bicara seperti itu, semuanya menghilang. Pria itu menganggukkan kepala dan berkata; ”Betul kan.” Kemudian pria itu berjalan pergi sambil meratapi nasibnya yang penuh kesusahan.

Memang sekedar joke. Kita tak bisa mengharap segala sesuatu ada dan terjadi secara instan sesuai apa yang kita pikirkan seperti dalam cerita di atas. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa kesuksesan atau kegagalan yang kita alami, bahwa keadaan kita saat ini dan di masa mendatang sangat terpengaruh oleh pikiran dan keyakinan-keyakinan kita.

Penulis sendiri sering membuktikan, bahwa apa yang saya yakini, akhirnya benar-benar terwujud. Mengingat kondisi ekonomi orangtua, sampai kelas dua tingkat SLTA saya belum terbersit pikiran untuk melanjutkan kuliah. Akan tetapi pada tahun berikutnya, ketika saya punya keinginan dan telah mengambil keputusan, saya pun merasa yakin bahwa saya bisa kuliah. Alhamdulillah, beasiswa pun saya raih. Saya menjadi mahasiswa tanpa harus membayar bea SPP ataupun SKS setiap bulan. Saya lulus dengan prestasi memuaskan.

Maka, hari ini saya benar-benar telah yakin bahwa saya dicipta untuk menjadi orang sukses. Saya tinggal memilih takdir-takdir terbaik yang diberikan Allah, lalu menjalankan peran sebaik-baiknya sebagai hamba dan salah satu khalifah-Nya di muka bumi. Bagaimana denganmu kawan?

Belajar itu biar pintar. Tentu saja, karena tanpa belajar orang takkan menjadi pintar. Kalau berani, berhenti saja belajar, maka sepintar apapun dirimu, dalam beberapa saat kamu pasti jadi blo’on. Yang pertama karena kamu ketinggalan informasi-informasi terbaru. Ilmu yang kamu miliki akan menjadi basi. Yang kedua karena otak manusia akan rusak bila tidak dipakai. Gampangnya seperti pisau yang pasti tumpul bila lama tak digunakan. Mau?!

Maka belajar dan teruslah belajar. Jangan berhenti kecuali kau nafas juga telah berhenti. Bayangkan bila ada bayi yang berhenti belajar. Karena merasa sulit sekali untuk bisa ngomong, dia lantas malas ngomong. Bisa ditebak apa yang bakal terjadi, selamanya dia gak bakalan bisa ngomong. Kalau toh dari mulutnya bisa keluar kata-kata, takkan bisa dipahami, bahkan oleh dirinya sendiri. Iya, karena kata-katanya memang tak mengandung arti. Untugnya tak ada ya bayi mutungan kaya’ begitu.

Belajar itu fitrah. Setiap orang memiliki keinginan untuk mengetahui dan lebih memahami segala sesuatu. Apa lagi bila sesuatu itu dirasa penting bagi dirinya, maka ia akan mengejar; membaca, bertanya, minta diajari, mencoba, juga bereksperimen.

Contoh sederhana; suatu ketika di masa kecil aku sangat menyukai layang-layang. Waktu itu layang-layang masih menjadi mainan favorit di kampungku. Tak hanya dimainkan anak-anak, tapi juga orang tua, bahkan kakek-kakek. Orang-orang membuat beraneka macam layang-layang. Ada yang dinamai tebokan, petekan, layangan kupu-kupu, layangan pesawat, layangan manukan dan sebagaianya, sesuai bentuk masing-masing. Tapi yang paling banyak dibuat adalah layang-layang tebokan dan petekan. Untuk layangan petekan (layang-layang yang berbentuk gereh petek itu loh, yang sekarang masih banyak dimainkan anak-anak) aku telah bisa membuatnya. Bentuknya yang sederhana membuat hampir semua orang bisa membuatnya. Tapi untuk layangan tebokan yang sedikit rumit, tak gampang dibuat. Aku juga suka layangan tebokan, aku ingin membuatnya. Karena itu aku melihat orang-orang membuatnya lalu mencobanya sendiri. Ketika ternyata layangan tebokan yang kubuat tak bisa terbang, aku tak putus asa, aku buat lagi. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya aku bisa juga bikin layangan tebokan. Nah, aku telah belajar.

Belajar itu kewajiban. Terdapat banyak perintah dalam al-Qur’an yang meski ditaati oleh insan beriman. Ada perintah shalat, zakat, puasa, haji, amar ma’ruf nahi munkar, dan banyak lagi. Tapi kau tentu ingat perintah Allah yang diturunkan pertama kali kepada Nabi kita, Muhammad Saw. Ya, iqra’, kita diperintah untuk membaca.

Bukankan membaca adalah salah satu cara belajar. Maka belajar adalah kewajiban. Bukan hanya karena belajar adalah perintah tegas dari Allah, tapi juga karena kita bisa berbuat benar hanya dengan belajar. Kita tahu mana halal mana haram dengan belajar. Kita tahu mana yang baik dan mana yang buruk dengan belajar. Kita juga tahu apa yang harus diperbuat dan apa yang meski ditinggalkan dengan belajar.

Tanpa belajar, kita hanya akan menjadi orang yang gemar berbuat salah. Pengennya berramah-tamah dengan tetangga, ee.. malah jadi ghibah. Pengennya menasihati, ee.. malah bikin dia sakit ati. Pengennya beribadah, ee… malah berbuat bid’ah. Pokoknya pengen berbuat kebaikan, tapi justru jadi kehancuran. Itu bila seseorang beramal tanpa ilmu. Kacaw. Maka wajib bagi kita untuk terus belajar.

Belajar itu ibadah. Karena jelas bahwa belajar adalah perintah Allah, maka ia adalah ibadah. Insya Allah, setiap langkah yang kita ayun untuk pergi menuntut ilmu, setiap harta yang kita belanjakan untuk beli buku, setiap kelelahan mata karena membaca, atau rasa kantuk yang kita paksa pergi karena hendak belajar, semua itu akan bernilai ibadah bila kita niatkan untuk Allah. Bahkan belajar merupakan ibadah yang bernilai tinggi. Ibaratnya, berpikir tentang kebesaran ciptaan Allah selama satu jam adalah jauh lebih baik dari shalat semalaman.

Dalam hal keutamaan menuntut ilmu ini, Rasulullah pernah bersabda; “Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan bukakan baginya salah satu jalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat benar-benar meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu benar-benar akan dimintakan ampun oleh semua penduduk langit dan bumi, bahkan ikan hiu yang ada di dasar air. Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi itu tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, tetapi mereka hanya mewariskan ilmu. Maka, barangsiapa yang mengambilnya, berarti ia telah mengambil jatah yang sempurna.” (HR. Abu Dawud)

Maka bergembiralah engkau para pelajar yang cinta belajar. BERSEMANGAT! Belajar itu sukses. Kesuksesan dalam ajaran Islam tak diukur dengan banyaknya harta yang bisa dikumpul atau tingginya kursi yang bisa diduduki (ntar yang paling sukses penbuat kursi dunk!). Akan tetapi sukses adalah bila hidup seseorang selalu berubah lebih baik; hari ini lebih baik dari kemarin, dan esok lebih baik dari hari ini. Itu hanya bisa diraih bila sesorang mau belajar. TITIK. (Tanpa harus kujabarkan lebih lanjut, kau pasti tahu maksudku ya.)

Belajar itu asyik. Dengan membaca buku atau mempraktekkan sesuatu, kita akan bertambah ilmu. Di samping itu, bila kita sudah mampu menikmati, kita dapat merasakan keasyikan yang luar biasa. Percaya deh, belajar itu asyik. Diriku sudah membuktikan, ketika membaca buku tertentu misalnya, kadang aku jadi susah berhenti. Makin banyak yang sudah aku baca, makin penasaran diriku. Lalu semakin sering baca buku, makin keranjingan aku sama buku. Pokoknya mengasyikkan sekali bila di kamarku ada buku-buku baru yang belum pernah kubaca. Boleh kalo kamu mau nyumbang buku buat perpustakaan pribadiku, he.

Belajar itu terus-terus menerus dan selama hidup. Setiap kali usia manusia bertambah, maka permasalahan yang ditemuinya juga semakin banyak dan terkadang rumit.Bukan itu saja, kewajiban, tanggung jawab yang diemban, amanah, serta keperluan hidupnya pun terus bertambah. Semua itu memerlukan ilmu yang juga harus ditambah. Karena itu otak mesti terus diasah dan hati harus disiram dengan ilmu. Bila tidak, orang itu bisa limbung, sekarat, lalu mati sebelum waktunya. Idih!

Maka belajar bukan hanya urusan anak SD, SMP, SMA atau kuliahan. Lebih bukan lagi hanya urusan anak sekolah atau kuliahan yang mau menempuh ujian. Belajar adalah urusan setiap insan yang merasa nadi masih berdenyut dan nafas masih berhembus. Ya, belajar adalah urusan setiap orang yang merasa hidup. Bila ada orang hidup yang merasa tak lagi perlu belajar, maka baiknya mati saja, karena sisa hidupnya akan sia-sia.

Pernah kau merasa malas. Pengennya tidur n’ gak turun dari kasur. Jangankan ambil air wudzu, shalat dan tafakur, pergi ke sumur buat kumur-kumur aja malas. Malah, mata yang udah setengah melek dipejam lagi. Akhirnya kembali mendengkur. Padahal, ayam-ayam sudah keluar, berjemur sambil nyari jamur.

NO NO No No No! Just Move! Bangkit dan bergeraklah! Rasa malas bila dituruti gak bakal ada bosannya. Malah bisa menjalar ke mana-mana. Mula-mula malas bangun, berikutnya malas wudzu, malas shalat, malas mandi, malas gosok gigi, malas sekolah, malas, malas, dan malas semuanya.

No! STOP! Just Move! Bangkit dan bergeraklah! Bila mata terasa berat untuk dibuka, bangkitlah! Gerakkan tubuhmu ke kanan dan ke kiri. Boleh kamu sit up, push up dan back up. Kalo perlu sekalian loncat-loncat. Dijamin, rasa kantuk bakalan lari terbirit. Lalu datanglah spirit.

Ingat bahwa segala sesuatu di dunia ini bergerak. Mulai dari atom-atom, air, udara, pepohonan, hewan, awan, bumi, bintang-bintang, rembulan, matahari, sampai galaxy, nebula, group nebula, dan alam semesta. Semua berjalan sesuai jalur edar masing-masing, fii manaazilahum. Maka, bila diri kita lebih suka berhenti, keseimbangan kita akan tergannggu.

Coba kau tidur terus selama 12 jam, apa yang bakal terjadi? Bukannya tubuh jadi fresh, malah tubuh jadi kaku pegal-pegal, mata jadi penat dan terasa gak enak. Atau kau berdiri tak bergeming 6 jam saja, apa yang bakal kau rasa? Mau tahu jawaban pastinya, ya coba aja! Gue mah ogah.

So, selama nafas masih berhembus dan nadi masih berdenyut, kita harus terus begerak. Jangan berhenti kecuali sekedar me-refresh diri. Tentu bukan asal bergerak, tapi bergerak dalam rangka amal shalih, bekerja untuk meraih prestasi dan ridha ilahi. Setiap gerakan akan menciptakan kebaruan. Setidaknya posisi baru dari apa yang bergerak itu. Dan ini yang jiwa kita suka. Bukankan fitrah manusia selalu mengingini kebaruan? Kita selalu merasa asyik dengan hal-hal baru.

Bila lama tak ada perubahan, yang awalnya asyik akhirnya bisa jadi memuakkan. Bukankah asyiknya masuk sekolah biasanya pada tahun pertama? Nikmat kuliah terasa di awal-awal masuk kampus, senangnya dapat pekerjaan yang di bulan-bulan pertama, nikmatnya hidup berrumah tangga seringkali juga hanya terasa saat bulan madu, selanjutnya bisa jadi bulan-bulan empedu.

Nah, itu semua terjadi ketika tak ada kebaruan. Meski telah memasuki tahun ke-3 sekolah di SMA, pasti terasa mengasyikkan bila ada hal-hal baru. Misalnya ketika sekolah kamu mengadakan perlombaan, siswa paling kreatif dan berprestasi tahun ini akan dapat hadiah mobil plus rekreasi ke luar negeri, pasti seru? (He, mana ada ya?)

Ato contoh lain, misal sekolah kamu lagi proses menjadi sekolah internasional. Lantas setiap siswa diwajibkan ngomong pake bahasa Inggris. Coz kebanyakan not yet bisa lancar talk in english, pasti jadi seru. Semua siswa ceplas-ceplos with english. Kadang-kadang campur with Boso Jowo. Jadi ngacaw, funny n’ kadang ngisin-isini. Malu-maluin gitoeh!

Contoh lebih dewasa, misalnya bagi yang sudah menahun hidup berkeluarga. Bila suami istri sering mengadakan hal-hal baru, pasti hidup berrumah tangga tetap seru. Misalnya tahun kemarin ngebangun rumah baru yang cantik, tahun ini tambah anak satu yang juga cantik, tahun depan punya target beli mobil baru, dua tahun mendatang rencananya suami mendirikan perusahaan baru. Nah baru-baru dan baru. Siapa gak suka?

Ato yang sederhana aja, misalnya hari ini suami pulang membawa bunga yang cantik. Masuk ke rumah dengan senyum manis, mengecup kening istri, lalu memberikan bunga itu sambil berkata: ”Istriku…, kamu cantik sekali. Makin banyak anak, istri makin cantik dech. Suami jadi makin cinta.” Nah, istri siapa gak bakal suka? N’ yang pasti, istri bakal lebih bahagia lagi kalo di samping bunga tadi, suami juga memberikan amplop berisi uang sebesar lima belas juta. He. (Langsug ke kamar deh mereka berdua). Mau? Makanya cepetan nikah! Gue dukung deh pernikahan dini! Asal ilmunya kagak juga masih dini (maksudnya belum tahu menahu soal hidup berrumah tangga), asal bukan karena udah terlanjur main yang enggak-enggak sama pacarnya.

Bener deh, dari pada pacaran berlama-lama, jadi sering berbuat dosa, mendingan langsung ke KUA, nyari surat nikah setelah kamu lamar si dia. Nah kawan, ciptakan kebaruan di setiap saat, maka hidupmu akan penuh gairah. Bergerak, bekerja dan berkreasilah. Jangan suka jadi menganggur, karena berhenti bisa menjadi sebab kematianmu (misalnya kamu berhenti di atas rel, di depan kereta yang sedang melaju kencang. He, itu mah namanya bunuh diri!)

Tapi benar, kebiasaan mengganggur tanpa aktivitas seringkali berakibat buruk. Misalnya yang sering melamun. Mula-mula melamun bagaimana kalau bisa kungfu kaya’ Jackie Chan, di tambah ilmu kamehame-nya Sun Go Ku. Habis itu ngelamuni gimana kalo punya istri yang cantik jelita. Minimal kaya’ Marshanda. Selanjutnya ngelamunin acara di malam pertama dengan si dia. Yang asyik-asyik di kamar, berdua. Nah jadi porno, jadi dosa. Padahal dianya baru kelas tiga eSeMPe! Apa nggak brabe?! Iya kalo cuma sampai tahap lamunan, kalo ujung-ujungnya pengen coba-coba? Kan jadi bahaya, gaswat dasrurat. Bisa jadi anak-anak sekolah yang keluar duluan karena dengan cepat mendapat gelar MBA (tahu kan?), ato kasus-kasus perkosaan yang sering terjadi juga bermula dari lamunan.

Nah, itu hanya satu contoh bahayanya berhenti. Okeh, sekali lagi bergeraklah! Banyak-banyaklah beraktifitas yang positif. Baca buku yang bermanfaat, mencerdaskan dan bikin tambah semangat. Atau biasakan menulis, berolah raga, berorganisasi, pergi mengaji, bikin kreasi-kreasi, juga rekreasi. Asal kegiatannya positif, pasti bermanfaat bagi kehidupanmu. Setuju? Lets do it! tu hanya satu contoh bahayanya berhenti.

Okeh, sekali lagi bergeraklah! Banyak-banyaklah beraktifitas yang positif. Baca buku yang bermanfaat, mencerdaskan dan bikin tambah semangat. Atau biasakan menulis, berolah raga, berorganisasi, pergi mengaji, bikin kreasi-kreasi, juga rekreasi. Asal kegiatannya positif, pasti bermanfaat bagi kehidupanmu. Setuju? Lets do it!

Sesering apakah kamu membeli buku bacaan? Seminggu sekali, sebulan sekali, setengah tahun sekali, setahun sekali, ato… kagak pernah? Berapa judul buku kah yang ada di perpustakaan pribadi kamu? Seribu, seratus, sepuluh, lima, dua, atau… tak ada sama sekali?

Jawaban yang kamu berikan akan menunjukkan seberapa besar perhatian kamu terhadap buku dan kecintaan menuntut ilmu. Bolehlah kamu bandingkain antara jumlah judul buku yang kamu miliki dengan koleksi pakaian di almari kamu. Banyakan yang mana?

Orang kadang terlalu pelit membelanjakan 30 atau 50 ribu untuk sebuah buku. Tapi untuk satu stel pakaian 150 ribu rasanya terlalu murah. Padahal manfaat pakaian hanya dapat kita nikmati ketika masih dapat dipakai. Kalau sudah robek, ya cuma jadi serbet. Malah warnanya pudar sedikit saja sering kali orang sudah enggan untuk memakainya lagi. Akan tetapi manfaat buku, manfaat ilmu yang terkandung di dalamnya, seumur hidup insya Allah akan selalu ada. Malah bila kita dapat mengajarkan ilmu yang terdapat dalam buku itu kepada orang lain, pahalanya bisa mengalir terus buat kita, meski kitanya sudah tiada. Seperti ilmu Imam Bukhori yang barakah ituh.

So, kalo mau maju, kalo mau jadi insan bermutu, cintailah buku!

Dengan buku, peradaban manusia terus berkembang, teknologi mutakhir tak pernah berhenti terus ditemukan. Bayangin kalo di dunia ini gak ada buku, akankah ilmu pengetahuan berkembang sepesat sekarang? Akankah ilmu-ilmu para ulama jaman dulu masih dapat kita dapati hari ini? Lalu bagaimana guru hendak mengajar dan murid memperoleh pelajaran? Dengan apa ilmu dapat disebarkan? Bagaimana kalo ilmu pengetahuan hanya tersampaikan dari mulut ke mulut saja, seperti pada jaman baheula? Wah, gimana ya?

Nah, begitu pentingnya keberadaan buku. Alangkah repotnya bila kita harus terbang ke Mesir ato Arab Saudi hanya untuk mendapatkan fatwa-fatwa kontemporer mengenai berbagai permasalahan dari para ulama besar kita. Lalu seorang ulama seperti Syekh Yusuf Qadlawi juga akan kerepotan bila orang-orang dari seluruh dunia datang untuk bertanya kepada beliau mengenai berbagai permasalahan masing-masing. Tapi itu tidak perlu kita lakukan, karena dari buku kita dapat memperoleh fatwa-fatwa mereka. Cobalah kamu pergi ke perpustakaan ato toko buku, maka ilmu yang ada di sana jauh lebih luas dari ruangan yang kamu masuki. Tak cukup kita menyebutnya sebagai gudang ilmu, karena samudera ilmu akan kamu dapati.

Bagaimana bila ilmu yang begitu luas itu tidak sempat terbukukan? Betapa akan susah menghapal lautan ilmu itu dan menyimpannya dalam memori otak untuk sewaktu-waktu dikeluarkan saat kita membutuhkanya. Dengan adanya buku, kita tinggal mencari judul yang pas dengan ilmu yang sedang kita perlukan, lalu membuka dan membacanya. Mau ilmu tentang ibadah, akidah, sekolah, kuliah, komputer, wirausaha, ekonomi, politik, ato pernikahan, semua ada. Ada dan berlimpah.

Andai saja buku tak pernah ada, barang kali hari ini belum ditemukan telepon, komputer, leptop, apalagi PDA. Bagaiaman orang akan belajar tentang ilmu komputer yang begitu banyak dan rumit tanpa buku? Akankah seseorang mampu mengingat informasi yang begitu banyak langsung di otaknya, kemudian menggunakan informasi itu untuk mencipta sebuah teknologi seperti komputer? Padahal, satu penemuan biasanya didukung oleh banyak sekali ilmu dan penemuan orang lain. Karena itu seseorang yang hendak mencipta teknologi baru harus mengumpulkan ilmu dari banyak orang dengan cara bertemu langsung, menyimpan dan mengolahnya di otak, lalu berusaha mencipta sesuatu. Sepertinya mustahil ya?

Kita sangat beruntung, karena kenyataannya buku ada di mana-mana. Kini semakin banyak saja penerbit maupun penulis buku yang bermutu. Contohnya ya diriku. He.

Okeh, mengingat pentingnya ilmu, mestinya kita cinta berat sama buku. Kita jadikan buku sebagai teman sejati yang menemani hidup kita selalu. Seperti Imam Ghazali yang meninggal dengan kitab Shahih Bukhari pada pelukannya.

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasul Saw. bersabda: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada orang mukmin yang lemah. Masing-masing ada kebaikannya. Bersemangatlah untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu, serta mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah lemah! Kalau tertimpa sesuatu, janganlah kamu mengucapkan: “Seadainya saya berbuat begini tentu akan terjadi begini dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan terjadi.” Karena kata seandainya itu akan memberi jalan pada setan.” (HR. Muslim)

Boleh kau praktekan. Silahkan duduk dengan punggung membungkuk, jatuhkan tanganmu dan hadapkan wajahmu ke bawah. Setelah itu cobalah untuk tersenyum! Nah, bagaimana rasanya?

Sekarang, tegakkan punggungmu, angkat tanganmu ke dada, dan tataplah ke depan. Cobalah lagi untuk tersenyum!

Bagaimana?

Dijamin, ketika tersenyum yang pertama, kau merasa berat, tidak enjoy, terlalu dipaksa. Iya karena posisi tubuhmu bukan mencerminkan orang yang sedang bersemangat dan bahagia. Kau lesu, loyo dan sengsara. Tapi setelah menegakkan badan dan menatap ke depan, kau telah menjadi orang yang bersemangat. Kau telah siap untuk menghadapi segala tantangan yang ada di depan. Karena itu senyum ceriamu akan mudah mengembang.

Maka bersemangatlah!

Manusia dicipta bukan untuk menjadi pecundang. Bukan untuk menjadi pengangguran yang ada guna merepotkan. Bukan pula untuk menjadi pemalas yang hidupnya selalu memelas. Apa lagi untuk menjadi penjahat yang selalu berperilaku bejat, bukan sama sekali.

Sebaliknya, kita dicipta untuk menjadi luar biasa. Kita ada untuk menjadi manusia-manusia hebat. Laqad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim. Allah telah menciptakan kita dapat bentuk yang sebaik-baiknya. Dengan modal terbaik yang diberikan Allah ini, mestinya manusia juga berpikir, berperilaku, bekerja dan meraih prestasi-prestasi yang luar biasa.

Bersemangatlah!

Mengutip Thomas Carlyle, Fauzil Adhim mengatakan bahwa, “Sejarah dunia (sesungguhnya) adalah  sejarah manusia besar.” History is the world is the biography of the great man. Sejarah hanya mencatat kehidupan orang-orang besar, sama sekali tak terisi oleh kisah-kisah orang biasa. Lihatlah penjual krupuk di pasar, tukang parkir di depan supermarket, pengamen jalanan, atau baby sitter di rumah-rumah orang kaya, akankan 60 tahun yang akan datang mereka menjadi bahan pembicaraan, kajian dan diskusi? Tidak sama sekali. Kecuali mereka dapat merubah hidupnya, pedagang krupuk hanyalah pedagang krupuk, tukang parkir tetap saja tukang parkir, pengamen juga akan tetap jadi pengamen, sedang baby sitter harus terus mempercantik diri agar tak jadi perawan tua. Maaf, hanya bercanda.

Bukan ingin merendahkan, bukan ingin mengatakan bahwa orang-orang yang punya profesi semacam itu tak pantas mendapat penghormatan juga tak layak masuk surga. Hanya saja profesi seperti itu memang tak dapat membuat seseorang dikatakan sebagai orang besar. Di suatu masa kehidupannya, tokoh-tokoh besar mungkin juga pernah menjadi pedagang krupuk, penggembala kambing, pengamen, atau profesi-profesi lain yang tak lebih bergengsi menurut pandangan kita, akan tetapi bukan itu yang menyebabkan namanya mengabadi. Mereka menjadi besar karena mampu menggetarkan dan merubah dunia.

Ya, tokoh sejarah pasti punya peran besar bagi umat manusia, melakukan kerja-kerja besar dan membuat perubahan yang dahsyat. Memang, terkadang juga melakukan kejahatan yang mengerikan.  

Nah, bila kau jugan ingin mencatatkan diri dalam sejarah, bila ingin menjadi manusia besar, maka guncanglah dunia. Lakukan perbahan-perubahan yang menggetarkan alam raya. Bukankan kita telah dicipta untuk menjadi khalifah di muka bumi?

Mari kita mulai, minimal dengan melakukan perubahan diri. Bila dulu selalu malas, mulai hari ini semangatlah. Bila dulu sering pesimis, mulai hari ini optimislah. Bila dulu kerap berpikir negatif, mulai hari ini berpikirlah secara positif. Bila dulu biasa duduk merunduk, mulai hari ini berdiri dan berlarilah. Bila dulu mudah cemberut, mulai hari ini tersenyumlah!

Bersemangatlah kawan!

“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada orang mukmin yang lemah.” Begitu Rasulullah menyampaikan. Maka di saat para sahabat menyerah menghadapi batu besar yang menghalangi penggalian pada perang parit (khandaq), Rasulullah Saw. datang menghujam batu itu dan membuatnya berkeping.

Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada orang mukmin yang lemah. Kuat secara fisik itu bagus, akan tetapi lebih bagus lagi bila diimbangi dengan kekuatan jiwa, kekuatan visi, kekuatan ilmu, kekuatan pikiran, juga kekuatan pengaruh. Nah, bersemangatlah untuk meraih semua itu!

Sungguh tak layak menjadi pemimpin jika kita lemah. Tak pula akan menjadi besar bagi orang yang loyo. Lihatlah pebisnis-pebisnis sukses, para manajer atau CEO sebuah perusahaan besar. Adakah mereka suka tongkrong di pinggir jalan? Atau mereka suka melamun sendiri dalam kamar hingga dua jam berlalu begitu saja? Atau mereka sering mengeluhkan kesulitan-kesulitan hidup yang ditemuinya pada setiap orang? Tidak. Orang-orang sukses itu salalu bersemangat. Bukan hanya karena mereka telah sukses lalu menjadi semangat, akan tetapi juga karena semangat mereka itulah yang menjadi pendorong kesuksesan. Dengan kata lain, bila bersemangat, kau akan sukses. Bila kau sukses, kau akan tambah semangat.

Maka bersemangatlah kawan!

Banyak yang meski kita kerjakan. Simaklah berita dan perhatikan sekitar kita. Engkau akan temukan dunia yang bertabur kejahatan, kemisikinan, kebodohan, kepedihan, dan segala hal yang memilukan. Siapa yang akan merubah semua itu kalau bukan kita?

Dari Abu Firas Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslamiy, ia termasuk pelayan Rasulullah Saw. Dan termasuk Ahli Suffah, ia berkata: “Saya bermalam bersama Rasulullah Saw., kemudian saya menyediakan air untuk wudhu dan kepentingan beliau yang lain, kemudian beliau bersabda: “Mintalah sesuatu kepadaku!” “Saya berharap agar dapat menemani engkau di surga.” Beliau bertanya: “Apa ada permintaan lain?” saya menjawab: “Hanya itu saja wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Bantulah saya untuk mengabulkan permintaanmu itu dengan memperbanyak sujud.” (HR. Muslim)

 Ingin masuk Surga, ingin bertemu Rasulullah di sana? Perbanyaklah sujud. Begitulah, mau jadi orang seperti apa, kita sendiri yang menjadi penentu. Sama sekali tak boleh kita menggantungkan diri sepenuhnya pada orang lain. Meski sahabat dan lingkungan memencarkan hado-hado positif maupun negatif, mereka bukan penentu, hanya pendorong. Meski takdir manusia telah dicatat dan pena telah diangkat, bukan berarti kita boleh berhenti berusaha, lalu pasrah pada nasib.

Orang lain dapat memberi motivasi. Ketika mengikuti sebuah training pengembangan diri, engkau barangkali menemukan semangat yang berkobar. Kau ingin segera berubah, bekerja dan berprestasi. Pulang dari training itu kau segera memperbaruhi rencana pribadimu. Kau catat hal-hal penting yang hendak dilakukan. Bahkan kau membuat jadwal dengan terinci. Tapi apa yang terjadi seminggu kemudian? Semangat itu mulai kendor, kalau tidak hilang sama sekali. Rencana yang telah kau susun dan jadwal yang telah kau buat hanyalah menjadi catatan tak berfungsi.

Motivasi eksternal hanyalah pemantik, akan tetapi api semangat dapat membara hanya jika ada dorongan dari dalam diri. Orang tua boleh saja memberi nasihat setiap hari agar anaknya rajin sekolah. Ia pun memberikan segala sesuatu untuk kepentingan sekolah anaknya. Tapi bila belum muncul kesadaran pada diri anak akan pentingnya sekolah, jangan heran kalau dia memecahkan rekor absen dan bolos.

Jadi, bila engkau ingin sukses, berprestasi dan menjadi luar biasa, maka kuncinya ada pada usahamu sendiri. Sejauh apa kegigihan usahamu, setingkat itulah prestasi yang akan kau raih. Sungguh, Allah takkan merubah keadaan kita, kecuali kita bersedia merubah diri. Innallaaha laa yughayyiru maa biqaumin hattaa yughayyiruu maa bi anfusihim.

Orang bisa jadi berargumen tentang takdir. Bahwa apapun yang kita alami di dunia ini telah tercatat dalam kitab lauh mahfuzh. Maka seperti apapun usaha manusia, takkan mampu ia melawan paksaan takdir. Begitu pendapat mereka. SALAH BESAR.

Harap diingat bahwa Allah menjalankan takdir sesuai dengan sunnah-Nya; sunnataullah. Takdir Allah bukan merupakan garis lurus fertikal sebagaimana akar tunggal dalam pelajaran biologi, tapi penuh cabang bagaikan akar serabut.

Mudahnya, mari kita angkat satu contoh. Seorang sarjana akan menempuh takdir yang berbeda bila ia terus-menerus mengirim lamaran kerja atau memutuskan untuk mendirikan usaha sendiri. Bila ia membuka usaha sendiri, maka hasil yang diperoleh akan berbeda bila ia memulai dengan modal 5 juta dibanding bila memulainya dengan modal 20 juta. Bila ia memulai dengan modal 20 juta, akan beda pula perkembangan usaha itu sesuai dengan profesionalistas kerja yang dilakukan. Bila ia sungguh-sungguh, insya Allah akan sukses. Tapi bila usaha itu dijalankan dengan setengah hati, ya tunggu saja kebangkrutannya.

Begitulah sunnatullah. Begitulah takdir. Bukan berarti setiap manusia dapat menentukan takdirnya sendiri. Akan tetapi manusia memiliki kesempatan untuk memilih takdir terbaik yang telah ditetapkan Allah baginya. Bila terserang penyakit, maka berobat adalah perlu, karena dengan itu kita dapat berpindah dari satu takdir buruk ke takdir yang baik. Bila ingin pintar, maka belajar adalah kewajiban. Bila ingin sukses, maka berusaha dengan sungguh-sungguh menjadi keniscayaan. Begitu seterusnya, kita pilih takdir-takdir terbaik yang telah di tetapkan Allah bagi kita.

Berkaitan dengan takdir ini Ust. Didik Purwodarsono membedakannya menjadi dua. Yang pertama takdir berupa apa yang dikehendaki Allah BAGI kita. Dalam hal ini ketetapan Allah mutlak tak bisa ditawar. Kalau si Busro telah ditakdirkan lahir dari orang tua yang tinggal di Kalimantan Selatan mepet hutan, dengan warna kulit coklat agak kehitaman, badan gemuk tapi sedikit kependekan, muka bulat plus rambut krebo seperti orang pedalaman, ya memang harus begitu. Tak ada gunanya Busro minta pada Allah agar dilahirkan kembali di Jakarta dengan tinggi badan sedang, kulit putih mulus, muka cakep, hidung bangir juga tubuh yang atletis. Apa lagi minta dijadikan Leonardo Decaprio atau Andy Lau.

“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” ”  (QS.  At-Taubah: 51)

Sedang yang kedua, takdir dalam arti apa yang dikehendaki Allah DARI kita. Dalam konteks yang kedua inilah kita punya pilihan. Allah menghendaki agar kita menjadi hamba-Nya yang taat. Tapi bila ada yang memilih untuk kafir, durhaka dan gemar menumpuk dosa, ya salah sendiri kalau nanti jatuh neraka. Allah menghendaki agar kita bersungguh-sungguh dalam menjemput rezki. Tapi bila ada yang malas bekerja, ya salah sendiri kalau miskin.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan  itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raaf: 96)

motivasi remajaKalo kitanya nggak siap n’ nggak ngerti ilmunya, ujian bisa bikin stres. Jangankan Ujian Nasional, ulangan harian aja kadang bikin jantung kencang berdegup n’ kepala senut-senut. Ujian kurang tiga hari kepala jadi pusing, kurang dua hari gigi ikutan linu, kurang sehari lagi saryawan menyerang, soal udah dibagikan mulai stres, soalnya susah pingsan deh.
Tenang Fren! Tenang! Hal itu gak bakalah terjadi kalo kamu udah baca buku yang satu ini. Selain berisi berbagai tip n’ kiat-kita jitu menghadapi ujian, dalam buku ini kamu juga bakal dapetin cara-cara smart untuk jadi semakin smart. Seperti kata Izzatul Jannah; menjadi rujukan belajar untuk belajar.
Di antaranya kamu bakal dapetin kelebihan dari kebiasaan-kebiasaan para juara. Di antara kebiasaan itu, para juara selalu disiplin, bergaul dengan sahabat-sahabat yang oke punya, rutin dalam belajar, bertanya ketika tidak tahu dan mau menulis. Engkau juga bakal dapetin jurus-jurus jitu untuk menghadapi segala rintangan dalam belajar. Misalnya kalo kamu sering terserang penyakit malas belajar, baru baca lima menit sudah terlelap, susah konsentrasi, lupa lagi lupa lagi, atau ketemu guru horor.
Nah, bukan itu ajah, kalo membaca buku ini, kamu juga bakal ngebeberin cara agar kamu bisa ngefren sama buku n’ melahab segala macam buku yang bermanfaat dengan lahab.
Selain dari teori-teori belajar yang semakin berkembang, buku ini juga ditulis berdasarkan pengalaman-pengalaman pribadi penulis. Meyakinkan, karena selain sering menjadi juara kelas di sekolah, penulis juga mendapat biasiswa hingga bisa jadi sarjana tanpa membayar biaya kuliah.
Buku ini bakalan bermanfaat banget kalo kamu mempraktekkannya. Ingat bahwa experience is the best teacher. Pengalamanlah yang akan mengajari kita untuk menjadi juara. Bila kamu cuma baca buku ini tanpa dipraktekan, ya pada bae, sami wae atuh alias sama ajah. Nggak ada bedanya. Lagian belajar dengan membaca hanya efektif 10% saja, beda banget bila dibanding belajar dengan praktek yang efektifitasnya 80%. Selengkapnya baca aja buku ini hingga kalimat terakhir. Dapetin semua tipsnya dan jadilah juara!

Kawan, hari ini kita menjalani hidup baru. Tentu saja baru, karena hari ini dalam kalender Masehi baru dimulai jam 24.00 dini tadi. Sedang dalam hitungan Hijriyah, hari ini bermula sejak adzan magrib terakhir terdengar di telinga kita. So, hari ini adalah hari yang baru. Memang, hari ini akan tetap ada waktu dhuhur dan ashar seperti kemarin, sebagaimana waktu subuh hari ini juga mengajak orang-orang shalih untuk bersujud, berjama’ah di masjid, sama seperti subuh kemarin. Tapi tetap, hari ini adalah hari yang baru, karena hari ini sama sekali bukan kemarin.

Oke kawan, kemarin telah berlalu, mari kita songsong hari yang baru ini dengan semangat baru, amal shalih baru dan prestasi yang baru.

Ketika bangun di pagi hari, bangkitlah dengan sepenuh hamasah. Katakan alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Alhamdulillaahilladzii ahyanaa ba’da maa amatanaa. Segala puji bagi-Mu Ya Allah, yang telah menghidupkanku setelah mematikanku. Rasakan kesejukan, kesegaran, dan energi baru. Rasakan betapa nikmatnya pagi ini. Otot-otot yang kemarin sedikit kaku kini telah kendor, kepala yang sedikit pening dan penat telah kembali fresh. Kaki, tangan dan punggung yang kemarin pegal-pegal juga telah pulih. Sungguh nikmat. Sekali lagi, alhamdulillah, tsumma alhamdulillah.

Benar kawan, mulailah kebangkitanmu pagi ini dengan syukur dan semangat, kau akan merasakan nikmat yang bertambah-tambah. Yakinkan diri di pagi ini, bahwa hari ini kau akan melakukan tugas-tugas besar. Kau akan bekerja degan penuh ghirah. Dan kau pun akan menghasilkan karya-karya yang luar biasa. Agar bertambah semangat, boleh kau kepalkan tangan dan katakan; Yes, I will!

Power Metal aja ngerti. Pernah dengar lagu jadul berikut?

Kawan bangunlah cuci mukamu

Jangan merunduk berpangku tangan

Songsonglah masa gapailah cita

Ekspresikan diri raih prestasi

Jangan seperti lagunya Mbah Surip

Bangun tidur, tidur lagi

Bangun lagi, tidur lagi

Banguuuuuuun, ti  dur  la  gi

Please dech ah!

Insya Allah, semangatmu pagi ini akan memberi energi besar untuk melakukan amal-amal shalih di siang, sore hingga malam hari. Ingat bahwa Allah memberikan sesuatu sesuai persangkaan hamba-Nya. Bila di pagi hari kita berprasangka baik, mudah-mudahan Allah memberi kemudahan kepada kita memperoleh bertabur kebaikan di hari ini. Kau simaklah kabar gembira dari Rasulullah berikut:

Dari Abu Dzar ra., ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda: ”Allah ’Azza wa Jalla berfirman: ”Siapa saja yang mengerjakan satu kebaikan, ia akan dibalas dengan sepuluh kali lipat atau lebih, dan siapa saja yang mengerjakan satu kejahatan, ia dibalas dengan satu kejahatan atau Aku mengampuninya. Siapa saja yang mendekat kepadaKu sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Siapa saja yang mendekat kepadaKu sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Siapa saja yang datang kepadaKu dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari. Dan siapa saja yang menghadap kepadaKu dengan membawa dosa seisi bumi banyaknya, sedangkan ia tidak menyekutukan Aku dengan sesuatupun, maka Aku akan menerimanya dengan ampunan sebanyak isi bumi juga.””

Satu kebaikan yang kita lakukan akan berbuah kebaikan-kebaikan. Allah-lah yang melipatgandakannya. Bila kau awali harimu dengan optimis, dengan ijinNya hari ini akan menjadi hari yang menggairahkan bagimu. Energi positif dari sikap optimismu akan memancar, ditangkap oleh pikiran, hati, darah dan seluruh tubuhmu. Maka, jiwa ragamu akan siap menghadapi segala tantangan yang membentang. Kau siap berjuang untuk menang.

Begitupun ketika kau hendak memulai segala aktifitas. Mulailah dengan optimisme dan sikap positif. Bismillah, aku melakukan pekerjaan ini untukMu ya Allah, maka bantulah dengan sebaik-baiknya. Insya Allah, segala ragu, khawatir, malas, sebal dan segala perasaan negatif akan terusir. Berganti spirit yang menyala-nyala. Maka segala pekerjaan terasa mudah dan mengasyikkan. Kaupun ingin terus beramal, mengisi harimu dengan kebaikan dan kebaikan. Terus, terus, terus dan terus.

Oke kawan, sekali lagi katakan dengan penuh tenaga: Yes, I will!

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya.

April 2014
S S R K J S M
« Des    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.